Sunday, April 1, 2018

Menyikapi Tarik Menarik Lagu Sion Lama dan Baru



Oleh: Ellen Manueke
(Sarjana Pendidikan Musik dan Magister Linguistik Antropologi)
Dosen Luar Biasa Prodi Seni Musik Universitas Negeri Manado (UNIMA)
  dan Fakultas Bahasa Universitas Nusantara (UN) Manado
Penulis buku: Musik dalam Ibadah (2004)
Musisi Gereja MAHK


Pendahuluan:

Sebagai anggota Gereja MAHK dari lahir, buku Lagu Sion telah sekian lama mempengaruhi minat dan pengembangan musik saya. Buku ini merupakan buku musik yang pertama kali saya kenal di kota kelahiran saya yang kecil, Tolitoli. Sejalan dengan penggunaannya dalam ibadah, seingat saya pernah terjadi perubahan menyangkut pengalihan kata atau nama dari ‘Isa’ ke ‘Yesus’; yang berlangsung secara umum di lingkungan Negara RI. Transisi ini berlangsung tahun 1980an dan kemudian teratasi; anggota jemaat gampang beradaptasi untuk perubahan hanya satu kata. Perkembangan bahasa dan pengenalan jemaat yang semakin baik terhadap lagu-lagu ibadah telah menumbuhkan kerinduan pemukhtahiran buku lagu yang diterjemahkan dari puisi bahasa Inggris tersebut.

Di awal tahun 2012, IPH merilis buku Lagu Sion Edisi Lengkap yang kemudian dikenal dengan singkatan LSEL. Tidak tanggung-tanggung terobosannya, buku ini dilengkapi dengan CD berisi minus one berupa iringan piano dari semua lagu yang tercantum, 525 lagu beserta contoh menyanyi melodi yang dinyanyikan oleh seorang biduan wanita bersuara sopran. Selain itu, tim penyusun juga datang khusus ke Kawangkoan, Sulawesi Utara dan mendapat waktu khusus di jam utama ibadah Sabat untuk mensosialisasikan buku tersebut. Warga gereja menyambut kehadiran buku ini dengan penuh antusias. Terbukti, penjualan buku meningkat, permintaan bertambah, dan perlu rentang waktu cukup lama bagi jemaat untuk mendapatkan kemasan tersebut setelah memesan. Penerbitan edisi lengkap lagu sion ini dapat dikatakan fenomenal karena berhasil menjawab kerinduan warga gereja akan revisi lagu-lagu, namun juga menuai kritik dikarenakan ketidaknyamanan yang muncul kemudian dalam penggunaannya di mana jemaat merasa tidak nyaman ketika menyanyikan lagu-lagunya.

Memasuki tahun ketujuh sejak dirilis, jemaat belum juga bisa meninggalkan buku versi lama dan belum juga mampu menyesuaikan dengan versi baru, istilah kekiniannya belum bisa move on. Berbagai alasan berkembang: tidak semua lagu di versi lama terakomodir di versi baru; sulit beradaptasi dengan puisi versi baru yang mana kepuasaan jemaat ketika menyanyikan puisi lagu versi baru tidak sama dibandingkan dengan saat menggunakan model lama; ‘lagu’ versi lama lebih menjamah dibandingkan dengan yang baru; versi baru tidak simple untuk dibawa ke mana-mana – sementara keunggulan versi baru ada pada daftar lagu yang semakin banyak dan beragam. Beberapa masalah ini mengindikasikan bahwa terjadi masalah dalam proses penyesuaian versi lama ke baru. Tulisan ini mengklasifikasikan permasalahan terletak pada tiga kelompok besar:  permasalahan linguistik atau penerjemahan puisi, permasalahan sastra atau puisi lagu serta penggunaannya dalam ibadah. Ketiga kelompok ini sebenarnya mencakup keragaman masalah di atas. Permasalahan musik sendiri tidak terlalu signifikan, dikarenakan komposisi musik tidak banyak yang mengalami perubahan. Kompoisisi puisilah yang menjadi inti masalah ini.  Dapa dikatakan, masalah kontroversi lagu sion lama versus baru terletak pada masalah puisinya dan bukan pada musiknya.

Sejumlah ahli berpendapat bahwa tidaklah mungkin menerjemahkan puisi secara sempurna kata per kata sama persis dengan makna dan keindahan bahasa asal oleh karena terminologi kata dan makna yang berbeda-beda di setiap bahasa. Namun demikian penerjemahan puisi lagu gereja kemudian harus ditempuh guna mendekatkan pikiran dan hati jemaat kepada suasana ibadah -meski sebagian lagu terasa janggal bila dibandingkan dengan kaidah berbahasa normal. Tidak dapat dipungkiri, sejumlah lagu dapat dengan mudah diterjemahkan atau diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dengan puisi yang memuaskan telinga, jauh lebih banyak lagu meiliki tingkat kerumitan yang tinggi dalam penempatan susunan kata serta ketepatan penempatan puisinya pada melodi lagu –poin yang sering diabaikan oleh penerjemah lagu awam. Keterbatasan-keterbatasan bahasa banyak kali memaksa penggubah syair melakukan sedikit modifikasi pada susunan kata dengan mencoba menyesuaikan dengan kemegahan melodi lagu; sebut saja lagu “It is no secret” yang diterjemahkan menjadi “tak tersembunyi”, bukannya “bukan rahasia”, misalnya. 



Pembahasan

1. Masalah linguistik
Dasar polemik lagu sion lama dan baru sebenarnya terletak pada kaidah linguistik yang ‘terabaikan’. Bila kaidah puisi dilanggar kemudian dapat saja berterima, tidak demikian halnya dengan kaidah linguistik. Akan timbul ‘kebingunan’ bankan 'blank spot' dalam pikiran menyangkut konsep dan pemahaman puisi bila dilakukan perombakan besar-besaran.

Untuk mengenali masalah ini, kita perlu mengetahui seluk-beluk berbahasa. Ketika seseorang berbahasa atau mengucapkan dan mendengar sebuah bunyi dan atau kata, saat itu sebuah skema atau konsep muncul dalam pikiran. Skema-skema ini kemudian membentuk rangkaian pemahaman yang disimpan dalam memori otak. Sebagai contoh, ketika dua suku kata “me” dan “ja” digabungkan, maka otak menggambarkan sebuah skema berupa benda mati berkaki empat yang berfungsi sebagai tempat meletakkan sesuatu. Skema 'meja' dalam benak seseorang itu bervariasi, ada yang mungkin membayangkannya dalam bentuk bulat, berkaki lipat, berdasar marmer dan lain sebagainya. Ada orang yang membayangkan ukurannnya besar, ada yang membayang modelnya bulat dan mungil menurut perspektif masing masing, di mana berbagai wujud ini dipengaruhi oleh pandangannya terhadap meja di sekitarnya. Skema akan beradaptasi bila masuk informasi baru mengenai rupa dan model ‘meja’ berulang kali. Biasanya lingkungan yang baru membentuk perspektif yang baru mengenai benda-benda atau alamiah lingkungan kita.   

Di dalam berbahasa ada pengelompokan suku kata, kata, frase, klausa dalam kalimat. Kata-katalah yang membentuk kalimat. Urutan dan contohnya dapat dilihat sebagai berikut:


Contoh kalimat pada tabel di atas akan membentuk skema-skema dalam pikiran. Skema dapat berubah seiring dengan perubahan cara pandang.

Sekarang kita masuk kepada pengenalan akan kata-kata yang menyusun puisi atau lagu dalam buku lagu sion, versi lama dan baru juga terhadap teks aslinya.

LS. Nomor 2
“Ke – pa – da   Al-lah  b’ri  pu-ji”
susunannya: 8 suku kata, 4 kata, 2 frase dan 1 klausa

Puisi ini hasil terjemahan dari:

“Praise God from whom all bless-ings flow”
susunannya: 9 morfems, 7 words, 2-3 phrases, 1 sentence

Dapat dilihat, telah terjadi perubahan jumlah unsur penunjang kalimat.

Berbagai pertimbangan kemudian mengubah terjemahan pertama menjadi seperti kalimat di bawah ini dalam edisi yang disempurnakan:

“Pa – da – Mu  Al-lah ku-pu-ji”
susunannya menjadi: 8 suku kata, 3 kata, 2 frase, 1 klausa

Bila puisi bahasa Inggris tersebut diterjemahkan bebas dengan mengakomodir makna puisi asal, akan menjadi:

Praise God from whom all blessings flow
Pu-ji Al-lah yang da-ri-pa-da-Nya-lah se-mu-a ber-kat ber-sum-ber dan meng-a-lir ber-ke-lan-jut-an

Frase kata kerja “Praise God” menjadi inti tema lagu ini. Frase selanjutnya menerangkan siapa Dia, kenapa harus dipuji dan siapa saja yang harus memberikan pujian. Setiap makna kata dalam bahasa asli tidak mungkin dimasukkan dalam melodi puisi terjemahan yang hanya mampu menampung 8 suku kata. 

Di bawah ini susunan lengkap puisi lagu ini yang sudah diubah:

Versi lama:
Kepada Allah bri puji, yang brikan berkat dan kasih
Smesta alam pujilah trus Bapa, Anak dan Roh Kudus


Versi baru:
PadaMu Allah, kupuji, yang brikan berkat dan kasih
Smesta alam pujilah trus Bapa, Anak dan Roh Kudus

Puisi asli:
Praise God from whom all blessings flow
Praise Him all creatures here below
Praise Him above ye heavenly’s host
Praise Father, Son and Holy Ghost

Komponen kata yang penting dalam puisi ini:
Praise: berikan pujian, naikkan pujian, nyanyikan puji dan puja
God: Tuhan pencipta, penebus dan pemelihara manusia
All creatures: Semua ciptaan yang harus menaikkan pujian

Kata-kata penting dari puisi asli sudah dimasukkan ke dalam puisi hasil terjemahan dengan mempertimbangkan aspek melodi lagu. Bila diperhatikan, klausa kedua (berarsir biru) harusnya dimasukkan sesudah kata kedua kalimat pertama karena menerangkan tentang subjek "Allah". Namun, pemenggalan ini dimaklumi dalam puisi lagu demi menyesuaikan dengan melodi lagu.

Adapun kedua versi puisi terjemahan di atas memiliki komponen kata dan suku kata yang hampir sama, kecuali pada penggantian ‘ke-’ ke ‘Mu’ disertai perpindahan posisi suku kata dan ‘bri’ ke ‘ku-’. Secara logika, perpindahan ini tergolong kecil, hanya dua perubahan dan empat suku kata. Bila diperhatikan, lagu ini juga berubah dalam melodi dan komposisi, namun juga dapat mudah diatasi karena perubahan yang tergolong mudah terdeteksi.   

Perubahan yang lebih sulit dapat dilihat pada contoh lagu di bawah ini:

Keterangan: 
L = versi lama; B = versi baru; angka 1 dan 2 menunjukkan baris dalam ayat dimaksud:

Ayat pertama:
L1: Hampirlah malam marilah Tuhan, sertai aku bri perhentian
B1: Tlah hampir malam mari ya Tuhan; sertai aku bri perhentian

L2: Karena kuharap hanya padaMu; Yesus penolong tinggal sertaku
B2: Karena kuharap hanya padaMu; Yesus penolong tinggal sertaku

Komentar: perubahannya tergolong ringan, hanya dua suku kata disertai perpindahan posisi

Ayat kedua:
L1: Singkatlah saja hidup manusia, akan lenyappun perkara dunia
B1: Betapa singkat hidup manusia, akan lenyaplah perkara dunia

L2: Tetapi Tuhan kekallah tentu, akan sentiasa tinggal sertaku
B2: Tapi kekallah Tuhanku itu, senantiasa tinggal sertaku

Pada ayat kedua, perubahan mulai berlangsung acak, tetapi belum secara drastis drastik sehingga masih dapat dipahami, demikian pula pada ayat ketiga. Namun demikian, perubahan cukup merepotkan karena mencakup pergantian dan perpindahan posisi suku kata, kata dan frase sehingga merepotkan alur berpikir sang penyanyi, khususnya mereka yang pernah menguasai versi lama. Pada kondisi ini mereka harus menyusun kembali skema dalam pikiran. Namun demikian, kondisi akan berbeda pada mereka yang belum pernah menghafal atau menghayati versi lama.

Ayat ketiga:
L1: Sertai aku sepanjang jalan, agar kudapat alahkan setan
B1: Sertai aku sepanjang jalan, agar kudapat kalahkan setan

L2: Penggoda ada ya Tuhan bantu, dan biar Engkau tinggal sertaku
B2: Dalam cobaan ya Tuhan bantu, kiranya Engkau tinggal sertaku

Ayat keempat:
L1: Beserta Tuhan habislah susah, takut dan airmatapun lalu
B1: Bersama Tuhan lenyaplah pilu, susah dan takut segra berlalu

L2: Hai maut dan kubur mana sengatmu, jikalau Tuhan tinggal sertaku
B2: Hai maut dan kubur mana sengatmu, jikalau Tuhan tinggal sertaku

Pada ayat ketiga, terjadi sedikit perubahan namun cukup merepotkan karena tata letak dan frase yang berubah tidak tentu; sementara pada kalimat pertama ayat keempat terjadi perubahan yang cukup signifikan.
  
Melalui pemaparan di atas, terlihat bahwa masalah yang timbul bukan semata-mata pada indah tidaknya puisi hasil renovasi, tetapi pada ‘kebingunan’ yang timbul karena perubahan yang tidak terpola dan acak. 

Pengubahan atau renovasi kalimat yang drastis pada buku versi baru dapat memicu terjadinya ‘blank spot’ dalam pikiran. Logika bahasa tidak berjalan karena pemuktahiran kata tidak memiliki batasan, apakah terbatas pada perubahan suku kata, atau perubahan kata, atau perubahan frase ataupun perubahan klausa hingga  kalimatnya, sehingga jemaat tidak dapat menarik garis ketetapan dan mengandalkan logika berpikirnya. Di pihak lain puisi lagu versi lama sudah menyatu dalam jiwa.

Coba bayangkan, dari sekitar 300 lagu lama dengan paling kurang 3 ayat pada masing-masing lagu, berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk menyesuaikan dengan renovasi yang tak tentu sebagaimana diuraikan di atas. Tidak heran jemaat menjadi frustasi. Belum lagi, acakan nomor dan judul lagu.

LS nomor 1 digantikan nomornya dalam versi baru menjadi LSEL nomor 21 disertai judul yang berubah. Memang menyiasati hal ini, penerbit telah menyediakan lembar penyesuaian nomor. Kelemahannya, lembar ini banyak kali tercecer dan juga butuh waktu dan konsentrasi dalam mencari tema lagu, tidak semudah penomoran yang tidak berubah. Bagi anggota jemaat yang berusia di atas 30 tahun dan sudah menguasai penomoran versi lama, beradaptasi dengan penomoran baru yang acak pasti sangat sulit dilakukan sekaligus. Jadi, sangat beralasan bahwa waktu lima tahun belum mampu mengubah paradigma jemaat untuk beralih sepenuhnya ke versi baru.

2. Masalah sastra dan puisi musik
            Bahasan mengenai seluk beluk puisi merupakan bagian dari sastra yang memiliki kaidah tersendiri. Telah diuraikan sebelumnya bahwa puisi tidak dapat diterjemahkan sama persis dengan bahasa asal. Akan dijumpai berbagai kekurangan dalam puisi terjemahan. Penerjemahan puisi musik memiliki tingkat kerumitan khusus karena kata-katanya harus menyesuaikan dengan jumlah nada dan tinggi rendah maupun panjang pendek melodi lagu. Nah, bagaimana menyiasati kekurangan itu, tidak saja terletak di tangan keahlian penggubahnya namun juga pada ‘kemujuran’ koleksi kosa kata yang tersedia pada bahasa target.

Melodi lagu adalah rangkaian tinggi rendah nada yang memiliki kesatuan tertentu. Susunannya yang terangkai perlu ditunjang dengan puisi yang sama terangkai pula. Pola melodi sebenarnya dibentuk oleh rangkaian puisi (bahasa) yang tersusun. Untuk puisi yang diterjemahkan, susunannyalah yang harus menyesuaikan dengan melodi dan hal ini memiliki tingkat kerumitan yang membutuhkan pemikiran dan pertimbahan bahkan uji coba berulang-ulang.

Setiap bahasa memiliki kosakata yang berbeda. Pola vokal-konsonan maupun pola akhiran puisi dalam bahasa asal bisa jauh berbeda dengan bahasa target. Sebagai contoh penerjemahan lagu “Blessed assurance” yang diterjemahkan di versi lama sebagai “Berkat yang tentu Tuhan Janji” (LS 101) dan di versi baru sebagai “Jaminan berkat Tuhan janji”. Kedua kalimat berakhiran vokal 'i'.

Hal mendasar yang perlu diingat dalam menerjemahkan puisi dari bahasa asal ke bahasa target adalah tinggi rendah intonasi atau tekanan kata perlu sejalan dengan tinggi rendah nada dan irama lagu. Sebisa mungkin pola kata harus sesuai dengan pola tekanan melodi musik; hal ini meliputi penggunaan vokal dan konsonan. Kaidah keindahan puisi juga tidak dapat dilalaikan.

Akan halnya kondisi terjemahan versi lama atau baru memenuhi seluruh kaidah keindahan musik dan puisi bisa dilihat dalam teknis pelafalan yang dilakoni dalam ibadah: yang mana terasa pas dan nyaman dan yang mana terkesan menggantung.

3. Penggunaan Musik dalam Ibadah

Penggunaan lagu atau musik dalam ibadah perlu disinggung sedikit dalam tulisan ini karena di sinilah buku lagu (Sion) digunakan. Setiap lagu merupakan alat ekspresi rasa dan karsa anggota yang dalam ibadah sangat dibutuhkan untuk menuntun jemaat kepada kesatuan berpikir, untuk menyatukan rasa dan karsa yang sama dalam ibasah.

Mengingat berkatNya yang selalu baru dan suasana yang berganti-ganti, maka tema lagu  pun akan berubah-ubah. Oleh karena fungsi lagu adalah untuk menyatukan hati maka temanya perlu disesuaikan dengan tema kegiatan. Lagu pembukaan dan penutupan perlu sekali menunjang renungan firman Tuhan. Permohonan dan pujian yang disampaikan lewat lagu merupakan bagian dari ibadah, sehingga sangat penting untuk menyesuaikan dengan tema renungan, agar hati dan pikiran ditarik lebih dekat dengan suasana dan isi Firman.

Memilih lagu
Identifikasi lagu akan pula mengidentifikasi nomor lagu. Terkait hubungannya dengan kondisi lagu sion edisi lengkap dengan penomoran yang acak, diperlukan waktu yang lama untuk menemukan lagu dengan tema dimaksud. 

Menghayati lagu
Permohonan doa dan pujian yang disampaikan lewat lagu perlu dilakukan sungguh-sungguh, sepenuh hati, pikiran dan jiwa. Kondisi ini membutuhkan penguasaan lagu dan penghayatan akan makna setiap kata dari lagu yang hendak dinyanyikan.

Contoh: Dengar ya Tuhan, dengar ya Tuhan, dengar doa kami dan bri damaiMu.

Puisi di atas mengungkapkan percakapan langsung dengan Tuhan. Bila seluruh kata dalam puisi tersebut sudah dipahami maka ketika dinyanyikan, pikiran dan rasa akan fokus pada kata-kata yang sedang diucapkan. Mereka yang pernah menghayai susunan puisi versi lama akan kebingungan bila harus beradaptasi dengan versi baru dengan perubahan yang acak. Rasa, logika dan karsa harus menyatu sehingga fokus pikiran pada kalimat yang sedang diucapkan. Sebagaimana seseorang bermohon kepada seorang pejabat atau penguasa akan berusaha tahu benar apa yang sedang diucapkannya, demikian pula kata-kata atau bahasa atau puisi yang hendak disampaikan dalam ibadah yang notabene beraudiensi dengan Tuhan.

Ketika menyanyi, seseorang juga akan mendengar atau mencerna alunan melodi (musik) dan bahasa (syair) yang dinyanyikan. Bila dinyanyikan berkelompok atau berjemaat, maka kumpulan suara-suaralah yang akan terdengar. Bila kumpulan suara yang didengar itu padu, maka jemaat akan menikmati dan memperoleh kesenangan di dalammnya; sebaliknya, bila tidak, maka ‘kekacauan’ atau ketidakpuasan yang diperoleh. Menyanyi berjemaat merupakan kegiatan paduan suara yang perlu disenangi dan dinikmati. Berbeda dengan bernyanyi solo yang lebih ‘bebas’, bernyanyi berkelompok perlu dilakukan secara kompak dan terpadu.  Keindahan bernyanyi paduan suara ada pada keterpaduan yang tercipta. Dua atau lebih orang bermenyanyi merupakan bagian dari nyanyian berkelompok dan perlu dilakukan dengan serasi dan seimbang.

Nyanyian akan memberikan kesan timbal balik, baik kepada sang performer atau penyanyi maupun kepada pendengar. Selain menghasilkan kesenangan bagi sang performer atau pembawa lagu, lagu yang memiliki ‘jiwa’ juga akan menyampai kesan atau gagasan kepada pendengar, kondisi apa yang akan diperoleh usai mendengarkan lagu. Dalam ibadah, jemaat adalah penyanyi, jemaat juga adalah pendengar. Bila jemaat sebagai penyanyi tidak terlalu mempersoalkan versi nyanyian yang hendak dinyanyikan, lama atau baru, jemaat sebagai pendengar tidaklah demikian. Pendengar membutuhkan pesan lagu dan hal ini harus disampaikan secara terpadu. Jika tidak, maka tujuan lagu untuk menguatkan jiwa tidak akan tercapai. Sebagai catatan, puisi yang dinyanyikan dua versi sekaligus dengan bunyi (sound) vokal ataupun konsonan yang berbeda-beda akan memunculkan ketidakharmonisan bagi jemaat sebagai pendengar.

Kondisi spiritual jemaat yang sedang membuka hati untuk mendapatkan input yang berguna bagi pengembangan jiwa dalam hal bunyi (musik) maupun kata (syair lagu dan atau Firman Tuhan) akan menjadi terganggu bila ada ‘ketidak-harmonisan’ suasana. Saat hati bersiap untuk mendengarkan firman, jemaat yang bernyanyi dan membuka hati. Dalam tahap ini kondisi jiwa sedang dalam suasana yang peka untuk dapat mencerna hal-hal sekecil mungkin yang kelak diamalkan kemudian. Kondisi psikologis ini bila tidak ditunjang dengan suasana lingkungan (dalam hal ini nyanyian, dan suasana yang tenang atau nyaman) yang kondusif akan menimbulkan ketidakpastian ataupun kebingungan. Pulang beribadah, ada ketidakpuasan di dalam pikiran.


Penutup

Kesimpangsiuran yang muncul karena kebingungan untuk memilih dan menggunakan buku lama atau baru perlu disikapi segera mengingat jangka waktu ‘tryout’ buku baru telah memasuki tahun ketujuh yang dalam hitungan matematika memasuki satu dasawarsa. Isi buku perlu ditinjau kembali sebelum diperbanyak lagi dan lagi. Tentu saja hal ini membutuhkan juga pertimbangan finansial dan dukungan berbagai pihak.

Penggunaan versi baru tidak akan menimbulkan masalah bagi generasi berusia 20 tahun ke bawah karena mereka sedang dalam proses belajar dan sedang membentuk konsep-konsep berpikir. Namun, bagi generasi yang telah lebih dahulu menjiwai dan menghayati isi buku versi lama, 30, 40, 50, 60 dan 70 tahun ke atas, adaptasi terhadap versi baru dapat dikatakan cukup berat. Persentasi generasi ini dalam ibadah untuk saat ini jauh lebih banyak daripada generasi muda dan tidak dapat diabaikan. 

Lebih dari dua ratus lagu baru yang dimasukkan dalam daftar lagu versi baru -yang sebenarnya tidak baru lagi karena telah berusia ratusan tahun- telah mengisi kekosongan yang tidak diberikan oleh buku yang lama. Ketidakpastian perubahan puisi lagu lama dalam versi baru juga mendorong jemaat untuk menyanyikan lagu-lagu baru yang terdapat dalam versi baru, disamping karena ingin mendapatkan pengalaman baru. Fakta bahwa sejumlah lagu yang ditambahkan pada buku versi baru telah memberikan kesan kepada jemaat harus pula menjadi pertimbangan. Akan halnya kenyamanan dalam menyanyikan puisi-puisinya perlu juga diuji.

Uraian ini menunjukkan duduk permasalahan yang dihadapi dalam penerapan buku lagu di gereja dan menunjuk jalan kepada pemecahannya. Untuk dapat maju dengan satu buku, kajian dan uji perlu dibuat. Tim yang terdiri atas pihak-pihak yang ahli tidak saja musik tetapi juga linguistik, sastra dan teologi akan sangat membantu memberikan langkah-langkah pemecahan untuk mengatasi kesimpangsiuran penggunaan lagu lama dan lagu baru sehingga kita bisa maju dengan versi yang disempurnakan tanpa meninggalkan versi lama. 


* * *

*Nantikan versi audio - video tulisan ini

Wednesday, October 9, 2013

Manado, a choir city

Tanggal 8 hingga 16 Oktober 2013 Kota Manado, ibukota provinsi Sulawesi Utara didaulat untuk menghelat acara Asia Pacific Choir Games sebuah iven yang mempertemukan kelompok paduan suara terbaik di wilayah Asia Pacific untuk mencari yang terbaik di antara yang sudah baik.

Sebagai tempat penyelenggara, kota Manado dipilih tentu saja karena beberapa pertimbangan. Sejumlah pengalaman internasional yang dilewati oleh para penyanyi koor daerah ini di berbagai iven dunia tentu saja menjadi salah satu pertimbangan. Lihat saja, beberapa paduan suara terbaik dunia muncul dari sini, seperti UNIMA Choir, Gema Sangkakala, Pria Kaum Bapa dan sejumlah nama besar lainnya.

Potensi suara yang dimiliki sebagian besar masyarakat daerah ini tentu juga tidak terlepas dari pembinaan musik sejak dini di gereja. Di sejumlah gereja di daerah yang kata seorang turis asal Turki merupakan kota dengan gedung gereja terbanyak ini para penyanyi dibina untuk menjadi penyanyi gereja, yang setiap minggunya terlibat dalam pementasan paduan suara di gereja. Hal ini memberi andil terhadap kualitas suara para penyanyi.

Sejumlah tempat bakal digunakan sebagai ajang tampilan para penyanyi kelas dunia, yakni Grand Kawanua International Convention di Kairagi, Gereja Tiberias di Gedung Joang, M-Icon dan Hotel Sintesa Peninsula di puncak Gunung Wenang pusat kota Manado.

Ratusan kelompok paduan suara sudah mendatangi bumi Nyiur Melambai yang juga dikenal sebagai the land of smiling people ini sejak awal minggu ini. Mereka datang dari berbagai kota dan berbagai negara. Para turis asal luar negeri ini datang dari Korea, Filipina, Thailand, Srilanka, Estonia, India, Iran, Malaysia dan China/ Hongkong. Sementara dari Indonesia sendiri 127 kelompok paduan suara kelas dunia sudah hadir dan sebagian besar di antaranya berasal dari Sulawesi Utara. Saat mendengar alunan suara koor PKB GMIM dalam satu pementasan internasional, kebetulan penulis berdiri di samping seorang tokoh pendidikan musik Indonesia, terdengar gumam dari tokoh musik kenamaan Indonesia itu: “gile.. bagus bener”.

Sebagai tempat penyelenggara iven paduan suara bergengsi, kota Manado tak diragukan lagi merupakan penghasil para penyanyi koor di tanah air. Iven Asia Pacific Choir Games ini sepertinya mengukuhkan Manado sebagai “a choir city”.

Kota Manado diberkati dengan suara-suara indah, harmonis dan terlatih baik. Para ahli musik menyatakan bahwa proses mendengarkan, menciptakan musik dan mengembangkan suara memberikan banyak manfaat bagi seseorang. Beruntunglah mereka yang telah mengolah suara menjadi merdu yang memberikan kenikmatan tidak saja bagi diri sendiri tetapi juga bagi banyak orang. Beruntunglah masyarakat kota, beruntunglah Kota Manado.

Kontak saya bila anda berniat menikmati keindahan kota Manado juga keindahan paduan suara di dalamnya.

Monday, September 30, 2013

Kompleks Jalan Roda, Pusat Kopi Konga di Pusat Belanja Tertua

Sejarah ‘kopi stenga’, kemungkinan saja diawali oleh sekelompok orang yang ingin berlama-lama menikmati kopi di rumah kopi (istilah Manado untuk warung kopi-red), walaupun sebenarnya perut telah kenyang. Mereka menyiasatinya dengan memesan kopi setengah porsi. Keberadaan gelas kopi yang tetap terisi di atas meja, meleluasakan mereka nongkrong lebih lama sambil berbincang-bincang dengan pengunjung lainnya.

Kemungkinan lain, kebiasaan ini boleh jadi dimulai oleh beberapa pengunjung yang berkantong pas-pasan atau berpura-pura pas-pasan. Dengan memesan kopi setengah porsi, mereka terbebas dari membayar penuh dan bisa hemat uang selain boleh nongkrong lebih lama di rumah kopi. Hal yang menarik tentang ‘kopi stenga’ ini, para pemesannya dibolehkan meminta tambahan air panas. Tentu saja, setelah ditambahkan air ,‘kopi stenga’ berubah menjadi kopi penuh tanpa tambah bayar.

Banyak cerita lucu di balik kebiasaan para penikmat ‘kopi stenga’ yang mungkin boleh disingkat dengan ‘konga’, istilah Manado untuk 'sekam' yang bermakna "cerita yang dikarang-karang dan tak berguna" ini; salah satunya yakni topik pembicaraan yang diangkat meliputi proyek-proyek bernilai milyaran hingga trilyunan rupiah padahal ujung-ujungnya mereka meminta traktir. Seperti namanya, “konga”, ngopi ala kopi stenga atau ‘konga’ di Jarod memang disertai dengan pembicaraan-pembicaraan mengada-ada, misalnya tentang topik proyek milyaran tadi. Ironisnya, ketika cerita tentang proyek itu sudah menyebar ke penjuru kota, begitu kembali lagi ke Jarod, para pencetusnya justru terpengaruh isu yang dibuatnya sendiri.

Ada lagi cerita yang agak teknis perihal para penikmat konga ini, yakni menyangkut tip dan trik dengan pemilik rumah kopi. Tanpa diketahui pengunjung, mereka telah 'main mata' dengan pemilik rumah kopi untuk menarik pelanggan.

Saat rumah kopi dibuka di pagi hari, penikmat konga dengan penampilan necis berbekal kemampuan 
diplomasi dan relasi, mendatangkan pengunjung untuk ngopi sambil bercerita tentang berbagai isu terbaru hari itu. Selama ngopi mereka akan menjadi rekan bicara yang baik dan mengkondisikan agar sang pelanggan memesan kopi berdua dengannya. Kopi yang pertama tiba di meja, itulah yang akan menjadi modal awal sepanjang hari itu.

Dimulai dengan secangkir kopi yang penuh, penikmat konga mulai mengangkat cerita konga dan tidak akan menghabiskan kopinya dalam satu pembicaraan. Penikmat konga selalu menyisakan kopinya paling sedikit hingga setengah porsi. Atau, bila keburu habis, pengunjung tetap rumah kopi ini akan meminta tambahan lagi satu konga, tentu dengan setengah harga. Rekan bicara juga tak akan keberatan bila nanti membayarkannya mengingat tambahannya hanya setengah harga saja.

Ketika rekan bicara telah membayar tagihan, penikmat konga akan meninggalkan kopi yang tersisa di meja sementara dirinya mengantar pulang sang rekan sampai di kendaraan. Begitu kembali bersama pengunjung yang baru, sajian 'kopi baru' akan tersaji di meja, yakni satu kopi untuk sang pelanggan dan satunya lagi merupakan 'kopi stenga' yang sudah dikemas baru. Pengunjung yang baru akan berpikir bahwa dua porsi kopilah yang telah dipesan sehingga ketika dia pulang akan membayar dua porsi kopi baru. Pada tahap ini, penikmat konga sudah mendapat keuntungan sebanyak satu porsi kopi.

Kepada pengunjung yang baru, penikmat konga juga menjadi rekan bicara yang baik sambil menikmati konga-nya yang sudah tersaji penuh. Demikianlah seterusnya, hingga sekian pengunjung mentraktirnya dengan kelipatan serupa. Di penghujung hari, penikmat konga akan melakukan hitung-hitungan dengan pemilik rumah kopi menyangkut keuntungan yang diperoleh dari hasil traktiran pengunjung, Dalam mengambil keuntungannyapun, penikmat konga tidak mengambilnya sekaligus; tetapi menyimpannya sebagai cadangan minum kopi di hari selanjutnya. Pemilik rumah kopi, yang merasa diuntungkan tidak akan keberatan memulangkan uang hasil traktiran orang lain yang sudah berlipat ganda itu. Dengan modal 'kopi stenga’, penikmat konga sudah dapat menikmati kopi ukuran penuh berkali-kali berikut kesempatan menikmati hasil traktiran orang lain dalam bentuk uang tanpa bermodalkan uang.

Kesempatan menikmati kopi tanpa bermodalkan uang bahkan bisa mendapatkan uang tentu saja merupakan peluang yang sayang untuk dibuang. Bagi penikmat konga, cerita konga merupakan salah satu cara untuk membuat acara minum kopi jadi semarak. Dengan ber-konga, mereka bisa membuat penjualan kopi menjadi laris manis semanis bonus yang didapat.

Tentang dinamika penyajian ‘kopi stenga’ ala Jarod ini, Sita, pelayan Rumah Kopi Pak Saleh, mengungkapkan bahwa sajian kopi setengah porsi ini sudah menjadi hal yang lazim di Jarod. “Kopi stengaitu ciri khas Jarod,” tegasnya sembari melayani permintaan pengunjung.

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Sulawesi Utara, Harun Mantauw juga tidak membantah keberadaan kopi konga dan cerita-cerita konga di baliknya. Mantauw bahkan memberikan gambaran keuntungan yang dapat diperoleh penikmat konga setiap harinya. "Rata-rata 30 pengunjung mendatangi setiap kios (warung-red) dalam sehari, dari total 48 kios di Jarod. Pengunjung bisa meningkat di momen tertentu," jelas Harun.

Hubungi kami bila anda berniat untuk menikmati suasana pusat kota Manado di Jalan Roda sambil melihat dari dekat pusat belanja tertua di kota Manado.

Sumber artikel: suaramanado.com

Friday, June 21, 2013

Semarak Pesta Ulang Tahun, Budaya Hari Jadi ala Bumi Nyiur Melambai

Semarak Pesta Hari Ulang Tahun
Budaya hari jadi ala bumi Nyiur Melambai

Hari ulang tahun selalu datang setiap tahun dan begitu dinantikan khususnya oleh anak-anak karena biasanya pada hari tersebut mereka mendapat hadiah dari orang tua atau teman-teman. Hal yang sama terjadi pula pada para remaja hingga orang tua sendiri.



Kebiasaan yang tumbuh di keluarga saya pada saat ulang tahun adalah, yang berhajat menggelar acara yang dinamakan syukuran dengan mengundang sanak saudara untuk berkumpul dan bercengkerama, saling bercanda dan menikmati makanan bersama. Pokoknya hari bersukacita atas ketambahan umur. Menu yang disediakan juga relatif, tergantung waktu dan situasi. Selain itu, topic yang dibicarakanpun sangat bervariasi.

Kebiasaan yang berlangsung dalam masyarakat kota Manado, tempat saya bermukim, Hari Ulang Tahun (HUT) diperingati dengan cara menggelar kegiatan ibadah di rumah kediaman. Biasanya ibadah dipimpin oleh pendeta jemaat setempat dan audiensnya para jemaat dan tetangga, sahabat maupun keluarga- ada banyak gereja dan denominasi yang ada di ibukota provinsi Sulawesi Utara ini dan kegiatan yang dilakukan relatif sama.

Bagi yang punya banyak relasi, biasanya harus menambahkan tenda di depan atau samping rumah juga kursi tambahan untuk menampung para undangan. Jika memungkinkan, acara dirancang oleh Even Organizer.  

Ada juga yang suka mengisi acara HUT dengan hiburan musik lagu-lagu dengan mendatangkan pemain musik keyboard elektronik dan penyanyi. Biasanya kegiatan nyanyi-nyanyi dilakukan usai ibadah dan berlangsung hingga tengah malam.

Di lokasi-lokasi tertentu, pesta ulang tahun diisi dengan meminum cap tikus –minuan keras khas Manado- atau minuman sejenis yang memabukkan. Seiring dengan perkembangan jaman, untuk kalangan tertentu tak tertutup kemungkinan mengisinya juga dengan pesta kembang api, seperti yang selalu dilakukan di saat pergantian tahun Masehi.

Mereka yang tidak ingin repot-repotan di rumah, restoran menjadi tempat yang paling nyaman untuk menjamu relasi disaat HUT, karena tidak direpotkan dengan persiapan-persiapan makanan sehingga tuan acara dapat bercengkerama dengan leluasa. Selain itu, berbagai menu ala Manado menjadi pilihan yang fleksibel untuk masing-masing lidah. Berbagai restoran yang terbentang di sepanjang pantai Manado dengan menu unggulan ikan laut menggoda banyak lidah untuk mencicipinya. 



Thursday, January 17, 2013

Kotamobagu: It's culture and natural wealth

On the way from Manado, North Sulawesi provincial capital toward Kotamobagu, we will pass a stretch of mountains and valleys full of trees pineapple. 

Lobong village, located about half an hour from downtown Kotamobagu is the producer of pineapples for a long time. Along the way Lobong villages, scenic pineapple stalls selling comes with a variety of other fruit will tempt us to stop and buy. In this place, the price of pineapples is certainly cheaper than the market price.

Pineapple fruits
Beside pineapple, Lobong village, as well as other villages in the region rich in nature of helping others, which is familiar known as 'gotong royong', an Indonesia mutual aid. One example of mutual support demonstrated selfless society, is if there is an accident on the highway of  Lobong, immediately the whole village gathered to help the victims. Unmitigated, given help, they do not pay attention to trouble ahead.

When I passed Lobong highway last night (16/1), a motorist hit by a car. The victim who was helpless appointed jointly by the villagers, was raised to a passing vehicle-arrested by them and together they drove the victim to the hospital. "Because spontaneous, they usually do not think that they do not have any money, so it would be problematic if they later return home to the village," said one witness, a Kotamobagu born but resident in Manado.

Mutual aid and natural resources are day to day life in there. The ease in planting and harvesting seems to live in terms of providing facilities to others. Completing the fertile soil, wildlife richness typical of Sulawesi is also present in this area. You can visit the National Wildlife Areas Nani Wartabone to see one of the world's rarest animals, birds Maleo and other various species. Contact me if your are interested to explore this land.

Tuesday, June 12, 2012

Minahasa, my dad's birthland



Today should be my dad's 77th birthday. The day he passed last year, April 12 was the hardest moment for us, his family. A year later, I found that this late old man has left his 6 children a living spirit. The song he often sang in his suffer time before died, 'Whispering Hope', has awaken my spirit to live in hope. "Whispering hope, oh how welcome thy voice, making my heart in its sorrow rejoice." I love this song and getting more understand on it's meaning after my dad passed away.

Despite of music, my dad loved traveling so much just like me. He came from a beautiful village of Minahasa, located upon a mountain called Rerer, a mountain full of clove plantation. Not far from the uphills mountain,  a very beautiful beach called Bulo overlays. My dad  laid down on Lelukaran sands, the cape side of Bulo many times. This beach area is also called Tondano Pante facing in a certain direction to the Moluccas Sea.





 The panorama up and under the water of Bulo is amazing. Many species of fish or 'sera' in Tondano language can be found in this waterworks. One of the most desirable fish to be catched by local fishermen is a big delicious fish called Gomuru. Lomutu and Meaya are also desirable. You can catch meaya when in the water by using a basket or something similiar.

Come and experience its beauty by visit this place. Eating baked fresh fishes on the white sands under the blue sky of Bulo will be an unforgettable moment to be, just as my dad and I have had. Contact me for further information.



Pic 1: Lelukaran, photo by me.
Pic 2: My late dad on Lelukaran Bulo, photo by me.
Pic 3: Gumoru and Lomutu fish, photo by Green.

Monday, June 11, 2012

About North Sulawesi

North Sulawesi is a region with beautiful people and panorama. The green leaves of coconut tree seen  across the land to the beach, caused it is also called Nyiur Melambai land. The friendliness of the people described by the side by side houses of worship along to the cities which has moto 'torang samua basudara' a Manado language means 'we all are brothers' also shows how the brotherhood established well.

All of the cities and area in this region, such as Manado the capital city, Bitung the port city, Tomohon the flower city, Minahasa with its beautiful lake, Bolaang Mongondow with it's beautiful agriculture area and the islands Sangihe Talaud have their own uniqueness of panorama and culture which is to be pity to pass by.


                                                   Me in Bolaang Mongondow, Januari 2012. Photo by Lucky. 


Sulawesi Utara Indonesia adalah daerah yang memiliki masyarakat dan panorama yang indah. Daun kelapa melambai-lambai di sepanjang hamparan pantai utara pulau Sulawesi, membuat segar mata memandang. Inilah sebabnya dia disebut juga daerah Nyiur Melambai. Keramah tamahan penduduknya  terlihat dari bangunan-bangunan ibadah yang berdiri berdampingan, menjunjung moto "torang samua basudara" yang menggambarkan suasana kekeluargaan yang terbangun dengan baik. 

Semua wilayah di daerah ini, yaitu Manado, Bitung, Tomohon, Minahasa, Bolaang Mongondow hingga daerah kepulauan Sangihe dan Talaud memiliki keunggulan panorama yang khas disertai budaya masing-masing, yang sangat mengesankan untuk dilewatkan.